Apa yang Membuat Usus Kita Tidak Bahagia? (Dan Cara Mengatasinya)

Pada Bagian 1, kita telah membahas bagaimana triliunan mikroba di dalam usus memengaruhi berbagai aspek kesehatan, mulai dari sistem kekebalan tubuh hingga kesehatan mental, serta mengapa masalah usus semakin meningkat di seluruh Asia. Namun, apa sebenarnya penyebab di balik kondisi ini, dan bagaimana kita dapat mengatasinya? 

Apa Penyebab Kesehatan Usus yang Buruk?

Gaya hidup modern sering dikaitkan sebagai faktor yang memengaruhi kesehatan usus. Berikut adalah empat yang paling signifikan: 

1. Pola Makan yang Kurang Sehat

Pola makan yang tinggi makanan olahan, minuman manis seperti bubble tea, serta makanan cepat saji yang rendah serat, hal ini dapat berdampak negatif pada kesehatan usus. Keseimbangan bakteri di dalam usus akan terganggu ketika usus tidak mendapatkan cukup prebiotik, probiotik, atau postbiotik.

2. Stres dan Kesehatan Mental 
Usus dan otak memiliki hubungan yang sangat erat melalui apa yang dikenal sebagai gut-brain axis atau sumbu usus-otak. Ketika kita mengalami stres, sistem pencernaan juga ikut terpengaruh. Kondisi ini dapat memengaruhi proses pencernaan sekaligus mengganggu keseimbangan bakteri baik di dalam usus.

Banyak masyarakat perkotaan di Asia menghadapi jam kerja yang panjang, kurang tidur, serta tingkat stres yang tinggi. Kombinasi faktor-faktor tersebut dapat memberikan dampak yang kurang baik bagi kesehatan usus.

3. Kurang Tidur dan Gaya Hidup Tidak Aktif  

Kurang tidur dan gaya hidup yang minim aktivitas tidak hanya memengaruhi tingkat energi, tetapi juga kesehatan usus. Saat kualitas tidur menurun, tubuh akan melepaskan lebih banyak sitokin yang dapat meningkatkan peradangan. Kondisi ini membuat lingkungan usus menjadi kurang ideal bagi bakteri baik dan memberi peluang bagi bakteri yang tidak menguntungkan untuk berkembang.

Kurangnya aktivitas fisik juga dapat memperlambat fungsi usus. Duduk terlalu lama, misalnya saat bekerja di kantor, dapat menyebabkan kembung, sembelit, serta meningkatkan jumlah bakteri yang merugikan. Sebuah studi oleh Wang, Wei, dan rekan-rekannya menunjukkan bahwa kebiasaan duduk dalam waktu lama dapat merusak lapisan pelindung usus dan memicu peradangan di seluruh tubuh.

4. Penuaan 
Seiring bertambahnya usia, jumlah dan keragaman bakteri baik di dalam usus cenderung menurun. Kita dapat kehilangan bakteri menguntungkan seperti Bifidobacterium dan bakteri penghasil asam lemak rantai pendek (short-chain fatty acids atau SCFAs) yang berperan penting dalam menjaga kesehatan lapisan usus. Akibatnya, proses pencernaan dapat menjadi lebih lambat, keragaman mikrobioma berkurang, dan tingkat peradangan dalam tubuh meningkat. 

Bagaimana Cara Meningkatkan Kesehatan Usus Secara Alami

Di masa lalu, masyarakat lebih banyak mengonsumsi buah-buahan musiman, sayuran segar, dan makanan fermentasi. Namun, pola makan modern di perkotaan kini lebih banyak didominasi oleh karbohidrat olahan, lemak tidak sehat, dan makanan ultra-proses. Pola makan seperti ini dapat mengurangi keragaman mikrobioma usus karena bakteri baik tidak mendapatkan nutrisi yang mereka butuhkan.

Berikut beberapa kebiasaan sederhana yang dapat Anda terapkan setiap hari: 

• Konsumsi lebih banyak makanan tinggi serat seperti sayuran, buah-buahan, biji-bijian utuh, dan kacang-kacangan

• Konsumsi makanan fermentasi seperti yogurt, kimchi, tempe, kefir, dan miso

• Mengonsumsi suplemen kesehatan usus yang menggabungkan prebiotik, probiotik, dan postbiotik

• Kurangi asupan makanan olahan, terutama minuman manis dan camilan

• Berolahraga secara teratur untuk menjaga tingkat stres tetap sehat

• Tidur yang cukup (target 7–9 jam setiap malam)

•Tetap aktif bergerak—bahkan aktivitas ringan setiap hari sudah sangat membantu 

Memulihkan kesehatan usus membutuhkan keseimbangan yang tepat antara prebiotik, probiotik, dan postbiotik:

Prebiotik: Ini dapat dianggap sebagai makanan untuk bakteri baik. Prebiotik membantu bakteri tersebut menghasilkan senyawa baik yang mendukung kesehatan tubuh kita.

Probiotik: Ini adalah bakteri baik itu sendiri. Probiotik membantu mengurangi kembung dan meningkatkan pencernaan. Fakta menarik: sekitar 70% sistem kekebalan tubuh kita berada di usus. Inilah juga pentingnya probiotik, karena membantu mendukung sistem pertahanan alami tubuh kita.

Postbiotik: Ini adalah zat bermanfaat yang dihasilkan ketika bakteri baik mencerna prebiotik. Postbiotik membantu memperbaiki lapisan usus, menjaga penghalang usus tetap kuat, dan mendukung respons peradangan yang sehat.

Mengubah pola makan dan gaya hidup adalah fondasinya, tetapi suplemen kesehatan usus yang tepat—terutama yang menggabungkan ketiganya, yaitu prebiotik, probiotik, dan postbiotik—dapat sangat membantu menyeimbangkan mikrobioma Anda.

Saatnya Merebut Kembali Kesehatan Usus Anda

Usus bukan hanya berfungsi untuk mencerna makanan. Organ ini memiliki peran penting dalam sistem kekebalan tubuh, metabolisme, dan kesehatan secara keseluruhan. Dengan memahami apa yang dibutuhkan oleh usus kita serta memperbaiki kebiasaan harian sedikit demi sedikit, kita dapat memberikan dampak positif bagi kesehatan kita untuk tahun-tahun yang akan datang.

Rujukan

  • Bai, Xiaowu, et al. “Landscape of the Gut Archaeome in Association with Geography, Ethnicity, Urbanization, and Diet in the Chinese Population.” Microbiome, vol. 10, no. 147, 2022.
  • Wang, Wei et al. “Effects of functional dietary fiber supplementation combined with home-based exercise on gut microbiota diversity and low-grade inflammation in urban sedentary adults.” Frontiers in nutrition vol. 13 1769785. 4 Mar. 2026
  • Canani, Roberto Berni. “Potential Beneficial Effects of Butyrate in Intestinal and Extraintestinal Diseases.” World Journal of Gastroenterology, vol. 17, no. 12, 2011, pp. 1519–1528.
  • Chen, Xuejie, et al. “Evolving Trends and Burden of Inflammatory Bowel Disease in Asia, 1990–2019: A Comprehensive Analysis Based on the Global Burden of Disease Study.” Journal of Epidemiology and Global Health, vol. 13, 2023, pp. 725–739.
  • Fu, J., et al. “Dietary Fiber Intake and Gut Microbiota in Human Health.” Microorganisms, vol. 10, no. 12, 2022, article 2507.
  • Ghosh, N. “Guardians Within: Cross-Talk between the Gut Microbiome and Host Immune System.” World Journal of Gastrointestinal Pathophysiology, 2025.
  • Gómez, C. V. G. “Prebiotic Probiotic Postbiotic Evolution in Food: Latin America Caribbean Trends Regulations.” Archivos Latinoamericanos de Nutrición, 2025.
  • Leeuwendaal, Natasha K., et al. “Fermented Foods, Health and the Gut Microbiome.” Nutrients, vol. 14, no. 7, 2022, article 1527.
  • Owolo, O. “Urbanization-Induced Gut Microbiome Dysbiosis and Type 2 Diabetes in Sub-Saharan Africa: A Systematic Review of Mechanisms and Indigenous Therapeutics.” Preprints, 2026.
  • Recharla, N., et al. “Gut Microbial Metabolite Butyrate and Its Therapeutic Role in Inflammatory Bowel Disease: A Literature Review.” Nutrients, vol. 15, no. 10, 2023, article 2275.
  • Vinderola, G., et al. “Frequently Asked Questions about the ISAPP Postbiotic Definition.” Frontiers in Microbiology, vol. 14, 2024, article 1324565.
  • Yurtseven, B. “The Role of Intestinal Microbiota and Immune System Interactions in Autoimmune Diseases.” ImmunoTargets and Therapy, 2025.